Friday, January 20, 2012

RUU PEMILU dan KEPENTINGAN POLITIK KETERWAKILAN PEREMPUAN


Dini Mentari*)

Pansus RUU Pemilu di DPR masih berdebat mengenai beberapa isu krusial, isu krusial yang mengemuka adalah perdebatan mengenai Parliamentary Threshold (PT) yang didorong naik 4%, kemudian penyempitan dapil serta mengurangi jumlah kursi. Perdebatan kemudian berkembang dengan hadirnya wacana mengenai kemungkinan memakai sistem proporsional tertutup. Hal ini didasarkan bahwa peserta pemilu bukanlah indvidu namun partai politik. Di pemilu 2009, dengan sistem suara terbanyak serta memakai sistem proporsional terbuka, individu yang menjadi kontestan dan bukan partai.

KEPENTINGAN KETERWAKILAN POLITIK PEREMPUAN

Dalam wacana yang tengah berkembang tersebut, kemudian dipertanyakan, dimanakah keterwakilan perempuan di politik 2014 ditempatkan?. Pasca keputusan Mahkamah Konstitusi tahun 2008 yang menetapkan suara terbanyak sebagai dasar kemenangan seorang kandidat legislatif, serta tidak dicantumkannya lagi persyaratan serta sanksi kuota 30%. Kelompok perempuan yang memperjuangkan keterwakilan, menjadi tidak memiliki dasar hukum yang cukup kuat secara eksplisit untuk menekan partaimenempatkan perempuan dalam posisi-posisi strategis sebagai kandidat legislatif yang memiliki kemungkinan terpilih besar.
Di sisi yang lain dalam pembahasan yang berkembang, terdapat wacana mengurangi jumlah kursi di sebuah Daerah Pemilihan (Dapil). Dalam hal ini, hemat saya kelompok perempuan harus memperjuangkan untuk jumlah kursi yang cukup banyak di 3-8 kursi atau 3-10 kursi, karena dengan jumlah kursi yang cukup banyak, memungkinkan peningkatan keterwakilan kelompok perempuan lebih besar. Karena perempuan yang ditempatkan di no 2 atau 3 atau menjadi kandidat no 1 di partai-partai kecil, kemungkinan dapat terpilih.

Menyikapi PT 4%,kelompok perempuan pun harus jeli memilih partai. Perempuan yang kini berada di partai-partai yang kemungkinan sulit lolos, harus segera bermigrasi ke partai yang memiliki kemungkinan lolos. Juga jika dalam RUU Pemilu, tidak memungkinkan koalisi antar partai atau partai tersebut tidak melakukan koalisi dengan partai lain.

Hal terakhir, kemungkinan pemilihan penggunaan sistem proporsional tertutup. Sistem proporsional tertutup, memungkinkan partai memiliki kekuasaan untuk menentukan orang-orang yang akan membawa kemenangan. Sistem ini rentan karena seperti memilih ‘kucing dalam karung’ serta kemungkinan terjadinya politik transaksional dalam partai sendiri. Kelebihannya, memungkinkan partai sebagai kontestan pemilu ( seperti tercantum dalam persyaratan RUU Pemilu) , memiliki kewibawaan terhadap kandidat personal. Dalam sistem proporsional tertutup, strategi meningkatkan keterwakilan dengan mendorong partai untuk menempatkan kandidat perempuan potensial di nomor urut 1, atau mendorong penggunaan zipper system/ sistem zigzag dimana kandidat perempuan bisa berada selang-seling dalam posisi strategis terutama di partai yang memiliki peluang keterpilihan tinggi. Yang perlu dicermati, jika penggunaan sistem tertutup dijalankan adalah bagaimana melakukan negosisasi dengan partai.

MEMPENGARUHI RUU PEMILU

Dalam pandangan saya, RUU Pemilu masih dapat dipengaruhi mengingat pembahasan masih berlangsung. Dengan mempertimbangkan kemungkinan mudah serta sulitnya keterwakilan perempuan dilakukan, saya melihat sistem proporsional terbuka lebih memungkinkan perempuan untuk memenangkan suara, karena tidak adanya basis hukum yang tegas untuk keterwakilan 30% dalam penyusunan Caleg. Sehingga tidak ada mekanisme yang memaksa partai untuk menempatkan perempuan di urutan yang strategis. Sistem proporsional terbuka ,
meski tidak mudah juga bagi perempuan, memungkinkan perempuan yang rajin ( serta tidak hanya memiliki uang), memiliki kompetensi dan popularitas untuk dapat memenangkan kursi.

Agar perempuan memiliki kesempatan yang lebih luas, jumlah kursi di dapil jangan diperkecil ke 3-6 kursi namun tetap di 3-8 atau di 3-10 kursi, sehingga seperti disebutkan di atas memungkinkan perempuan lolos menjadi lebih besar.
Menyikapi PT 4%, sebaiknya kelompok perempuan mendorong pengurangan ke 3%, agar kebhinekaan dari masyarakat Indonesia terwakili. Dengan PT 4% hanya beberapa partai besar saja yang lolos. Sementara banyak calon perempuan yang menjadi kandidat berasal dari partai-partai menengah dan kecil.

*) Pemerhati dan praktisi keterwakilan perempuan di Politik, Direktur Eksekutif PATTIRO
Institute




Monday, July 25, 2011

Pengurus DPP PPP 2011-2015

Tim formatur PPP merampungkan penyusunan pengurus baru periode 2011-2015. Berikut ini 55 nama fungsionaris DPP PPP hasil Muktamar VII Bandung.

Ketua umum: Suryadharma Ali
Wakil ketua umum: Emron Pangkapi, Hasrul Azwar, Suharso Monoarfa, Lukman Hakim Saifuddin.

Ketua DPP: Irgan Chairul Mahfiz, Ermalena Muslim, Achmad Farial, Wardatul Asriah, Zainut Tauhid Sa'adi, A. Rahman, Muhammad Arwani Thomafi, Reni Marlinawati, Epyardi Asda, Sholeh Amin, Fernita Darwis, Okky Asokawati, Icuk Sugiarto, Aunur Rofik, Makmun Halim Thohari, Rusli Effendi, Yusroni Yazid, Hizbiyah Rohim, Masykur Hasyim, Dimyati Natakusumah, Andi M. Ghalib, Iskandar Syaichu, Usman M. Tokan.

Sekertaris Jenderal: M. Romahurmuziy
Wakil Sekertaris Jenderal: Mansyur Kardi, Isa Muchsin, Hilman Ismail Metareum, Qotrun Nada Syaitri Ahmad, Husnan Bey Fananie, Sigit Hariyanto, Ratih Sanggarwati, Laili Nailulmuna, Joko Purwanto, Dini Mentari, Qoyyum Abdul Jabbar, Siti Nurmila Muslih, Akhmad Ghozali Harahap, Ariza Agustina, M. Ghozi Alfatih, Hasan Husaeri Lubis, Elviana, Ridho Kamaluddin, Munawaroh, Syaifullah Tamliha, Sitti Maryam Thawil, Ahars Sulaiman, Etha Aisyah Hentihu.

Bendahara Umum: Mahmud Yunus, Wakil Bendahara I: Asmui Suhaimi, Wakil Bendahara II: Ma'rifah Ma'ruf Amin. (OL-8)

Friday, April 22, 2011

Geliat Mendorong Anggaran Responsif Gender di Birokrasi Kita


Gaung kuota 30 persen masih terasa , ratusan perempuan di pemilu 2009 dan 2014, tampil menjadi calon anggota legislative di berbagai tingkatan kepemerintahan. Citra bahwa perempuan tidak aktif di politik bergeser, wajah parlemen dan pemimpin daerah memperlihatkan tampilnya perempuan di parlemen kita. Sisi lain, masyarakat pun menjadi terbuka dan terbiasa menerima pemimpin dari kalangan perempuan.

Namun bagaimana geliat perempuan di birokrasi kita?, perempuan di pemerintah kini berjuang untuk mendapatkan posisi-posisi strategis, meski dibandingkan jumlahnya masih minim. Dimana jumlah pegawai di kepemerintahan berkisar 40% adalah perempuan, namun yang menduduki jabatan pimpinan masih minim, 4 menteri, 1 orang gubernur dan berbagai posisi di walikota, bupati dan pejabat Eselon I.

Selain menduduki jabatan-jabatan di birokrasi, berbagai Kementrian mencoba menggerakan birokrasi melalui tugas-tugas dalam merencanakan program dan anggaran ( gender budget) yang memberikan manfaat yang setara bagi perempuan dan laki-laki baik di Nasional maupun di tingkat local yakni di tingkat provinsi dan kabupaten. Langkah yang awalnya diinisiasi oleh kalangan aktifis perempuan di kalangan masyarakat sipil ini, telah memperlihatkan keberhasilan cara untuk mengefektifkan anggaran dan merealokasikannya untuk kepentingan perempuan dan orang-orang yang menjadi beban perempuan terutama perempuan miskin.

Langkah yang coba ditempuh oleh pemerintah dan aktifis perempuan di kepemerintahan adalah mengupayakan adanya kebijakan Peraturan Menteri Keuangan 104/2010 yang mendorong agar anggaran dan program kegiatan di Kementrian dan Lembaga yang jumlah APBNnya kira-kira 1000 trilyun, pelan namun pasti diperjuangkan agar lebih adil terhadap kepentingan perempuan dan laki-laki melalui instrument gender budget statement (GBS), serta instrument lainnya. Kebijakan ini menjadi upaya scaling-up ( perluasan) dari keberhasilan yang telah didapatkan. Kebijakan ini telah didorong dari tahun 2009 di tingkat nasional. Serta akan meluas pada tahun 2012 ke pemerintah daerah di tingkat local.

Arti penting kebijakan ini, kebijakan-kebijakan di tingkat nasional yang menitikberatkan pada pembangunan tingkat nasional serta upaya koordinasi akan lebih memiliki sensitifitas gender yang tinggi. Kementrian dan lembaga yang telah menginisasi dan menguji coba ini antara lain Kementrian Pendidikan, Kesehatan, Pekerjaan umum dan Pertanian dan lainnya . Kementrian dan Lembaga ini akan menjadi Kementrian yang menjadi role model lembaga yang memiliki rencana, kebijakan strategis, pedoman serta panduan-panduan bagi pelaksana teknis.

Tak kurang dari Departemen Pemberdayaan Perempuan serta kementrian lainnya berupaya membuat tim pengarusutamaan gender untuk mengecek RPJM, program dan anggaran agar dapat diarahkan lebih responsive gender, memenuhi kebutuhan bagi laki-laki dan perempuan. Upaya inovatif juga dilakukan dengan memberikan anugerah Parahita, bagi Kementrian/Lembaga dan Pemda yang telah melaksanakan program yang responsive gender. Contoh yang telah menerapkan adalah Kementrian Pekerjaan Umum.

Tak hanya di nasional, provinsi Jawa Tengah telah bergerak lebih cepat dengan mengeluarkan SK Gubernur mengenai integrasi pengarusutamaan gender dalam Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) serta telah melakukan sosialisasi ke seluruh kabupaten oleh tim yang terdiri dari eksekutif, akademisi dan kalangan LSM.

Upaya eksekutif banyak diantaranya dari kalangan perempuan ini membawa angin segar dalam perubahan kebijakan , dorongan birokrasi kini lebih memperhatikan kebutuhan perempuan dan beban –beban yang ditanggung perempuan miskin. Perempuan di birokrasi serta tim, meski masih alam tahap inisiasi nampak bersemangat, terlihat dari aktifitas yang dilakukan di berbagai kementrian. Berbagai kegiatan dilakukan , ternyata SBY yang didukung oleh pemilih perempuan untuk kemenangannya, ternyata mencoba memperhatikan kepentingan pemilih perempuannya.

Tantangan Kemudian: Bagaimana di Lapangan?

Namun uji coba, menjadikan anggaran dan program yang lebih adil ini, bukan tanpa halangan. Mesin birokrasi adalah mesin yang dampaknya signifikan, bisa jadi bila ini digerakkan dengan baik, akan menghasilkan perubahan. Tantangannya, dorongan kebijakan dan niat baik , perlu dikawal implementasinya di lapangan. BIsa jadi dilakukan sendiri oleh pemerintah , namun nampaknya lebih efektif jika dikolaborasikan dengan kekuatan para aktifis perempuan dari kalangan masyarakat sipil serta kalangan perempuan yang kini di parlemen sebagai jejaring untuk memantau apakah program dan anggaran dikucurkan sesuai rencana, sehingga dampak-dampaknya lebih terasa.

Tantangan lain yang dihadapi adalah membuat ini menjadi sistemik. Karena struktur birokrasi membutuhkan pendekatan teknokratis, perempuan di birokrasi dan pendukungnya diharapkan dapat menurunkan konsep-konsep pemetaan kebutuhan dan perbedaan laki-laki dan perempuan, mendapatkan data terpilah, menciptakan instrument yang sesuai dan menyebarkan peningkatan kemampuan analisis gender serta menyiapkan perangkat monitoring dan evaluasinya.

Selain itu, untuk kebijakan-kebijakan yang sangat sensitive seperti kenaikan harga BBM, ketahanan pangan, dan lainnya, diharapkan birokrasi mempertimbangkan dampaknya bagi kalangan perempuan miskin dan yang terpinggirkan.

Inisiatif ini , tidak mudah dan tentu tidak akan menghasilkan perubahan karena membutuhkan waktu yang panjang. Ke depan, dorongan rencana dan implementasi tidak hanya di birokrasi di tingkat nasional namun juga birokrasi di tingkat local. Agar perempuan terutama yang miskin yang berada di desa-desa, dapat merasakan ‘geliat birokrasi yang lebih responsif’ terutama karena kebutuhan akses pelayanan dasar pendidikan dan kesehatan yang sangat bersinggungan terhadap kebutuhan praktis perempuan kini dalam UU No 32/2004 , wewenangnya berada di tingkat daerah.

Dini Mentari, Direktur PATTIRO Institute.

Sunday, April 17, 2011

Kartini Digital, Menembus Batas Ruang dan Waktu



“Di dapur, di sumur dan di kasur”, biasanya begitu perempuan Indonesia. Yang menggambarkan bagaimana perempuan di pinggirkan di ruang public. Banyak perempuan yang memilih menjadi ibu rumah tangga , baik di pedesaan maupun di perkotaan, diam di rumah-rumah dan menyimpan potensi-potensi yang lebih luas. Sehingga jaringan pergaulan dan pengetahuan menjadi lebih sempit.

Konvergensi media digital serta mobile phone, membawa perempuan pada dunia baru. Hanya dengan meng-klik , perempuan terhubung kepada jaringan global. Sehingga kemungkinan besar keterkungkungan ini menjadi lepas. Perempuan seperti memiliki ‘alat’ baru yang memanjangkan langkah dan pikirannya.

Perempuan dapat berinteraksi tanpa keluar rumah dan menyesuaikan dengan waktu yang dimilikinya. Perempuan dapat bergaul di situs jejaring sosial yang seperti twitter –yang menurut penelitian Oxford Internet Institute penggunanya di Indonesia aktif 24 jam, 7 hari dalam seminggu setara dengan keaktifan penduduk New York ataupun bergabung dengan Facebook yang kini ‘komunitasnya’ berjumlah 30 juta di Indonesia menurut majalah Times, di urutan ke 2 setelah Amerika Serikat. Sehingga perempuan tidak usah khawatir tertinggal pergaulan karena berada di rumah. Justru dari rumah, bila memiliki kemampuan, dapat membangun berbagai peluang yang tersedia di internet.

Jika dulu Kartini mengabarkan melalui media surat mengenai ‘nasib perempuan’ yang terkungkung adat di bilik-bilik rumah untuk menyuarakan keinginan, pemikiran dan aktifitasnya. Kini perempuan dapat membangun ruang publiknya sendiri di dunia maya. Dunia global yang dapat diakses hanya dengan meng-klik hand phone atau dengan memakai akses modem langsung terhubung melewati waktu dan melintasi sekat-sekat kungkungan.

Kini berbagai komunitas jaringan perempuan muncul, Klub Berani Baking, klub masak, klub perempuan pencinta fotografi, Toko-toko online, jaringan penulis perempuan yang berkumpul ribuan , menuliskan keseharian pemikrian karya , yang dulunya mungkin tidak terimpikan. Di berbagai media sosial, perempuan bergaul dengan kerabat, teman masa lalu, ataupun membangun hubungan sosial dan bisnis baru, ataupun sekedar berbincang mengemukakan perasaan dan pemikirannya ke tingkat yang lebih luas. Internet telah menjadi alat bantuan baru dari ketertindasan untuk memerdekakan perempuan misalnya dalam kasus Prita Mulyasari ataupun para pejuang buruh migrant Indonesia di berbagai negara melalui teknologi informasi yang tersedia.

Kehadiran teknologi informasi dan komunikasi membuat lompatan bagi perempuan Indonesia, Sejatinya, internet dan mobile phone memberikan kemudahan bagi perempuan selain menjadi konsumen pasif dari content-content yang diberikan, juga dapat berkreasi membangun content-content baru. Melalui berbagai aplikasi yang mudah, perempuan dapat berbagi pengetahuan mengenai keterlibatan di politik, permasalahan kesehatan, peluang bisnis ataupun diskusi-diskusi yang menambah wawasan . Waktu yang digunakan lebih fleksibel. Pendeknya dunia digital, seperti kehadiran KArtini, membawa dunia baru bagi perempuan Indonesia yang lebih bebas dan mampu mengkonstruksi wacana sesuai dengan pemikiran perempuan-perempuan Indonesia serta berperan aktif seperti yang lainnya.

Pekerjaan Rumah yang Tersisa

Dunia digital masih menyisakan pekerjaan rumah bagi perempuan, kehadiran internet di era digital ini masih banyak diakses oleh perempuan-perempuan perkotaan dengan tingkat pendidikan yang cukup baik. Masih ada perempuan-perempuan yang tertinggal , tanpa mampu mengakses teknologi. Perempuan-perempuan miskin yang boro-boro mengakses teknologi informasi dan komunikasi seperti internet di pedesaan dan pedalaman. Kesenjangan kepemilikan ini juga, yang disebut digital divide akan menyebabkan kesenjangan pengetahuan. Padahal Internet menyajikan begitu banyak pengetahuan dan bahan pembelajaran. Perempuan diharapkan menjadi penyampai kepada perempuan dan yang lainnya, agar tidak menyebabkan kesenjangan digital yang lebih lebar.

Sebagai ibu rumah tangga pun, perempuan diharapkan memahami penggunaan internet dan alat digital lainnya terutama bagi keluarga. Peran sentral yang masih dimiliki ibu-ibu Indonesia untuk mengasuh, meminta perhatian lebih bagi pengawasan penggunaan internet dan media sosial lainnya (internet literacy), sehingga ibu-ibu bisa mendorong penggunaan internet yang sehat dan bermanfaat bagi diri dan keluarganya.

Dini Mentari/PATTIRO

Foto diunduh dari: http://www.antarafoto.com/peristiwa/v1274527801/mobile-learning


Monday, October 22, 2007

Bintang

Anakku, dalam dirimu membuncah jiwaku
Semesta sukma, dalam matamu
Rindu yang menggigil
Pelukanmu, menghirup semua kegundahan

Meski kau tahu,
Di mataku tak ada matamu
Di hatiku tak ada hatimu
Kau terus tawarkan, meski kadang itu sia-sia

Hari yang panjang, selalu tanpa mama

Meretas Kenangan 90-96

(Kantin Sakinah, Bandung)

Memandang, selaksa jiwa yang tumpah ke masa lalu
Nafas menderu di tengah aroma kenangan

Gambaran kangen, tawa dan sejumput angan-angan kita
Meregang, membuka sekat-sekat waktu
Tumpah di semangkuk mie ayam dan es durian

Persahabatan, perjalanan, berjejer bak etalase
Napak tilas, terasa menghempas

Semua itu, tujuhbelas tahun yang lalu

2007, Oktober

Friday, July 20, 2007

Surat Untuk Kakak di ITB

Kabarnya kak,
Tanah-tanah itu terbungkam
Menyuarakan hati paling dalam
Antara harga suatu bangsa dan harga sekelompok jiwa
Dan suara kakak yang keras telah membicarakan keadilan
( Tapi keadilan milik siapa?)

Beritanya kak,
Kakak-kakak terbungkam
Untuk menyuarakan hati paling dalam

Lalu kalau sekarang diam lagi
Mengapa tak dari dulu diam saja
Toh antara diam dan bicara
Tak ada beda

(Pikiran Rakyat, 21 Januari 1990)

Surat

Cerpen MOH. SYAFARI FIRDAUS
Pajajaran, 23 April 1998: 03.26

Ass. Wr. Wb.

Dini yang baik,

Maaf kalaupun surat ini agak telat saya kirim. Beberapa hari belakangan, badan saya agak sukar untuk diajak kompromi. Entahlah. Mungkin ada sedikit masalah dengan sirkulasi dan metabolisme dalam tubuh saya....
Malam ini, tepatnya malam tadi, saya menonton lagi “Dick Tracy” dan “Blade Runner” yang ditayangkan RCTI dan Indosiar. Film bagus, meski saya sendiri tidak terlalu khusyuk menyimaknya karena harus saya tonton secara bergantian pada saat yang bersamaan. Mungkin itu salahnya saya, tidak mau mengorbankan salah satu di antara keduanya. Saya menginginkan “Dick Tracy” karena tidak ingin ketinggalan untuk menikmati aksen kontras, kesan buram dengan polesan pernik warna-warni yang kadang lucu dan ganjen garapan Warren Beatty itu? Sementara, saya pun tidak ingin kehilangan “Blade Runner”, terutama untuk menikmati garapan musiknya yang ditata Vangelis; sebuah komposisi perpaduan musik koral --atau mungkin karakteristik musik zaman barok-- dengan style instrumen kekinian (tapi entahlah, pengetahuan saya tentang musik sungguh sangat payah!) yang dimainkan secara impresif sehingga hasilnya bisa menyuguhkan imaji futuristik seperti yang ditawarkan filmnya itu sendiri.
Sepak bola menjadi penutup acara menonton saya. Denmark vs Norwegia, partai uji coba sebagai pemanasan menjelang Piala Dunia '98. Denmark cuma bagus pada awal-awal babak pertama. Seterusnya mereka kedodoran. Stamina mereka jelek, atau barangkali tim dinamit ini ketiban frustrasi, enggak bisa bikin gol meskipun mereka menguasai jalannya pertandingan. Alhasil, di hadapan publiknya sendiri, Denmark akhirnya dipaksa harus takluk 0-2 oleh Norwegia, yang jika dilihat dari kualitas permainan, sebenarnya masih sekelas di bawah mereka. Tapi ngomong-ngomong, apa Dini suka (nonton) sepak bola?
Itu dongeng saya sebelum saya menulis surat ini. Kini, saya ditemani musikalisasi puisi-puisinya Sapardi.

Dini yang baik,

Berkaitan dengan suratmu yang telah saya terima itu.
Entah bagaimana saya harus menanggapinya. Yang jelas, saya sungguh menikmati apa yang tertutur dalam surat bertulis tangan itu. Sederet idiom dan frasa metaforis yang tersusun di situ, sempat membuat saya jengah tersipu-sipu. Seringkali pula mengharuskan saya untuk betah termangu dan cukup terganggu untuk tahu; ke mana arah kata-kata ini ingin lari? Saya agak gelagapan, Dini, meskipun saya sendiri telah mencoba untuk berkali membacanya. Berbagai teori dan metode analisis teks yang sempat saya pelajari, dalam menghadapi ini ternyata harus berakhir dengan kerontokan. Barangkali, saya memang masih membutuhkan kehadiran seperangkat referensi pendukung yang sampai saat ini memang masih terasa asing, belum bisa saya kenali. Pada lembar pertama yang impresif itu, yang diteruskan dengan lembar keduanya yang justru terkesan meletupkan aroma sentimentil, seperti muncul dari energi-ekspresif yang tertahan, pada akhirnya hanya mampu saya terjemahkan sebatas stilistiknya saja. Boleh jadi, saya pun tampaknya harus mengasah diri agar bisa lebih peka untuk mencernanya; suara gelegar rapuh tanpa ruh/ usia menghitung harinya sendiri/ keriput hatiku, mengkerut/ aku redam dalam air, biar mekar/ entah berapa lama//; sebuah pernyataan aforistik yang sungguh berbekas bagi saya. Bagian ini, kalaupun kemudian dilepaskan dari konteks keutuhan teks surat secara keseluruhan, saya boleh yakin itu adalah puisi.
Membaca surat itu sebenarnya saya sempat merasa kaget juga. Kiranya saya sudah telanjur banyak bicara, seperti kepada seorang kawan yang telah lama mengenal saya.
Saya memang sempat mengutipkan Voltaire (yang saya temukan dalam Si Lugu); singkatnya, rasa cinta senantiasa akan sanggup menyulap seseorang menjadi penyair. Betul, Dini, saya sendiri mengakui dan mungkin sekaligus juga meyakininya. Jawaban itu pula yang biasa akan saya berikan kepada hampir setiap orang yang bertanya seperti juga ketika dulu Dini menanyakannya. Bahkan saya seringkali berkelakar, saya baru akan bisa menulis puisi jika saya berhasil jatuh cinta dan berusaha sebisa-bisanya untuk sakit hati! Tapi, Dini, itu tidak lantas mengartikan, demikianlah pula kredo saya. Dalam hal ini, apa yang telah saya sebut tadi itu hanya berlangsung di tatanan paling permukaan. Kalaupun pengalaman semacam itu kemudian harus saya adopsi dalam proses penulisan, biasanya itu hanya akan diposisikan sebagai aksentuasi untuk memberikan polesan kesan.
Sementara, perihal kekentalan nafas cinta sebagaimana yang Dini temukan dalam puisi-puisi saya, sejujurnya saya katakan, terkadang saya sendiri sulit untuk bisa mengerti mengapa puisi saya kebanyakan justru meruapkan aroma seperti itu. Padahal, pada saat proses penulisannya seringkali saya tidak pernah membawa pretensi dan tendensi untuk menulis sajak cinta. Saya pun tidak tahu persis, Dini, seperti juga tanyamu di surat itu, apakah segala yang telah saya tulis dalam puisi-puisi itu memang merupakan representasi, sebagai bentuk perwujudan dari cinta saya yang tengah hiruk-pikuk dan berkecamuk? Boleh jadi, "ya", Dini, tapi bukankah sangat terbuka pula kemungkinannya untuk "tidak"?
Sampai saat ini saya masih tetap yakin, segala sesuatu yang kemudian kita ucapkan lewat bentuk puisi (kesusastraan) tidaklah selalu harus bersandar pada landasan biografis atau realitas empiris-pragmatis. Masih tersimpan intuisi, imaji, dan fantasi; meskipun benar, hal itu pun akan banyak dijiwai oleh sederet pengalaman yang mengelilingi hidup dan kehidupan kita; ada semacam afeksi dan empati, yang secara bersamaan semuanya itu akan saling melengkapi. Bahkan, kalaupun harus menyitir Freud, dalam satu tesisnya kurang lebih ia menyatakan, seni --dalam hal ini sastra, puisi dalam perbincangan kita-- akan memungkinkan untuk dapat melipatgandakan eksistensi dengan mengaktualisasikan sederet kemungkinan yang tak dapat terwujud dalam kehidupan nyata. Di sini, si kreator pun akan dimungkinkan untuk bisa memuaskan narsismenya. Dengan kata lain, sastra akan bisa menjadi sarana untuk mengartikulasikan bagian-bagian yang hilang dan tidak ditemukan dalam realitas konkret seorang individu. Boleh jadi, ketika seseorang harus berbicara perihal cinta, ia sebenarnya justru (tengah) kehilangan dan berusaha untuk menemukan bagian itu di dalam dirinya.
Tapi, Dini, saya sendiri tidak ingin menafikan suatu kenyataan bahwa pada satu ketika saya memang sempat dibanjiri oleh wacana seorang perempuan; sebuah periode ketika diri saya harus dikocok dan dibenturkan pada sekian pilihan. Saya tidak tahu, apakah di sana telah tersimpan "cinta" itu? Yang jelas, ia adalah seorang kawan bercakap yang tak habisnya menjelmakan kecemasan demi kecemasan, terus meradang mencari muara tempat berlabuh! Ya, Dini, saya seperti diajak kembali untuk bercakap dengan diri saya sendiri, untuk mengenali dan menemukan wilayah yang harus saya jejaki;
di sana hanya tinggal derai rambutmu, menyibakkan sekian sajak dari sisa-sisa akhir periode cinta yang kutanggalkan bersama hamlet dan macbeth. kini, segalanya telah berakhir: pada laut yang dialirkan angin, dikutipkan embun-embun, dipecahkan gagapnya percakapan. Matamu, telah mengeja jatuhnya senja, berkubur satu-satu dalam riuh pesona lampu-lampu, seperti memburu perjalanan seorang abimanyu di padang kuru-
**
23 April 1998: 14.20

Dini yang baik,

Memang semua ada usianya. Tetapi kenapa kita mesti terlalu cemas karenanya? Toh, waktu akan tetap terus melaju ke arah yang ia tuju, tanpa akan pernah mau menunggu untuk menghentikan sejenak pun perjalanannya bagi kita. Sebagai seorang pesimistis, saya hanya bisa berharap semoga ia akan bisa mengajarkan kita kesabaran.
Begitu pun halnya dengan tawaranmu itu, Dini. Saya jadi teringat pada Gertrude, tokoh gadis buta dalam novelnya Andre Gide, Simfoni Pastoral (mudah-mudahan Dini pernah membacanya). Dalam kebutaannya, Gertrude justru bisa lebih menikmati hidup, bahkan jatuh cinta pada pendeta yang telah sekian lama merawat dan mendidiknya. Namun, hal ini berbalik menjadi sesuatu yang begitu menyesakkan, justru setelah kebutaan Gertrude bisa disembuhkan. Tatkala gadis itu bisa melihat secara langsung segala realitas yang tersimpan di sekelilingnya, terlebih di saat ia mengetahui bagaimana kesedihan yang terpancar di mata istri si pendeta yang dicintainya, Gertrude akhirnya lebih memilih bunuh diri. Meskipun gagal, tapi ia tetap mati.
Dengan kata lain, ada isyarat bahwa kenyataan memang sering memberi gambaran lain yang jauh dari pembayangan. Mungkin betul, seperti apa kata pepatah; "kabar selalu lebih indah dari rupa." Itu pula yang mungkin telah mendorong saya, atau kita, untuk menulis puisi; kenyataan paling buruk sekalipun akan bisa kita tulis seindah-indahnya.
Ya, cukuplah surat-surat ini saja, mungkin lebih baik. Dengan waktu yang mungkin mengajarkan kesabaran itu, biarlah ia yang akan mempertemukannya. Dan sebagai seorang yang pesimistis, saya cukup untuk berkata; aku pun tahu: sepi kita semula/ bersiap kecewa, bersedih tanpa kata-kata/ pohon-pohon pun berbagi dingin di luar jendela/ mengekalkan yang esok mungkin tak ada// (bait terakhir puisi “Di Beranda Ini Angin Tak Kedengaran Lagi”, Goenawan Mohamad, 1966).
(Jika saya mencatatkan peristiwa ini menjadi puisi, saya akan menuliskannya begini: "tak perlu ada cinta buat rindu di antara kita. Jangan marah. Ini hanya sekadar tanda mata untuk menjaga kesedihan demi kesedihan yang belukar membangun rumah kita?")
**
25 April 1998: 00.52

Beberapa saat setelah “A Bridge Too Far” usai (beberapa hari ini kerjaan saya nonton tv) ....

Dini yang baik,
Terkadang saya sendiri sangsi, apakah benar saya tengah berada dalam sebuah pencarian? Kalaupun benar, mengapa saya tidak mengetahui apa yang tengah saya cari? Ataukah, justru karena saya tidak tahu apa yang tengah saya cari itu, pada saat-saat ini saya tengah mencarinya? Saya tengah mencari apa yang saya cari? Dalam pencarian seperti itukah?
Saya belum bisa memastikannya, Dini. Keraguan selalu saja datang menusuk-nusuk, berpihak pada kecemasan yang seperti tak berujung. Begitu pula dengan tanyamu tentang rumah, kiranya apa yang mesti saya katakan, sementara kata "rumah" masih menjadi ketakutan yang senantiasa memburu saya ke mana pun! Sungguh, Dini, rumah mungkin adalah ibu dari segala kecemasan saya itu. Ya, betapa kata itu sungguh terasa obsesif. Sudah terlalu sering saya menyebutnya dalam sejumlah tulisan saya; rumah yang begitu dekat dengan keseharian saya, tapi terkadang begitu asing pula untuk bisa saya kenali.
Akan tetapi, tentu saja setiap orang berhak atas rumah, Dini, siapa pun, tanpa terkecuali. Meskipun pada akhirnya akan mengalungkan kembali kecemasan demi kecemasan, saya pun selalu berharap untuk bisa membangun sebuah rumah. Sebab, pada suatu hari nanti mungkin saya ingin menyambanginya; menemukan genangan kerinduan, meski ia hanya akan mencatatkan sunyi.
Ya, setiap orang berhak atas rumah, Dini, seperti embun-embun yang berumah pada cahaya matahari. Tak ada pula yang akan terlalu sombong untuk menawarkan alamat untuk singgah kepadamu, paling tidak kata-kata itu; ia pun akan bisa menjadi rumah untukmu. Atau, kenapa tak kita coba untuk bersetia membangun rumah bersama, seperti kali ini. Tak perlu ada baris-baris janji di sini, karena seperti juga yang katamu dalam puisi itu: "yang kubutuhkan (pun adalah) kesedihan di mana kita bisa berdoa bersama."
**
26 April 1998: 01.13
Ada telefon tadi pagi (25/4), dari seorang teman SMA. Kini dia tinggal di Palembang. Dia mesti datang ke Bandung berhubung kakaknya akan menikah di sini esok hari. Kami tak bicara lama, "Besok saja," katanya. Dia bermaksud mengundang saya --dan beberapa teman lain-- agar bisa menyempatkan diri datang ke pesta pernikahan itu. Dulu, kami pun sering saling berkirim surat, kartu lebaran, dan kartu ulang tahun, atau sekadar kartu pos. Tapi itu dulu, ketika saya dan dia masih suka bercentil ria. Ia pun, meminjam istilahmu, mungkin telah menjelma sebagai wanita abad 21 yang harus menjadi sandera peradaban itu. Entahlah. Sudah terlalu lama saya tidak bermuka-muka dengannya.
Kebiasaan saya di setiap Sabtu sore, untuk kali tadi tidak saya penuhi. Sudah lebih dari satu bulan ini saya harus cukup puas hanya membolak-balik buku di Gramedia. Dan itu tentu saja sangat menyebalkan. Sementara, sekian buku dalam daftar saya semakin bertambah panjang. Bagaimana saya harus mengatasi problem ini? Celakanya, beberapa tulisan yang saya harapkan bisa segera dimuat, seperti raib begitu saja. Ya, mungkin minggu ini. Saya harap begitu.
Di luar, saya dengar mulai ada rintik gerimis ....

Dini yang baik,

Ketika saya membaca satu bagian paragraf pertamamu di surat bertanggal 20 April itu, saya jadi teringat dengan sebuah syair yang tersimpan dalam mahabbah cinta-nya Rabi'ah Al-adawiyah. Demikian tulis Rabi'ah dalam syairnya:
alangkah sedihnya perasaandimabuk cinta
hatinya menggelepar menahan dahaga rindu
cinta digenggam walau apa yang terjadi
kalau terputus, ia sambung seperti mula
lika-liku cinta, terkadang bertemu surga
menikmati pertemuan indah dan abadi
tapi tak jarang bertemu nerakadalam pertarungan yang tiada berpantai
Bilakah kini dirimu sebenarnya tengah berupaya untuk menikmati pertemuan indah dan abadi itu, namun harus berada dalam sebuah pertarungan yang tiada berpantai, Dini? Di sini, memang ada saat-saat ketika kita harus berdiri di sebuah tepian yang begitu kecut untuk bisa kita lewati. Namun, mungkinkah Ia sebenarnya tengah berencana karena menghendaki agar hidup kita lebih sempurna? Saya sendiri terkadang merasa tengah berada di tepian seperti itu, Dini. Ya, dalam keadaan demikian, seringkali saya hanya bisa menyimpan harap, semoga ada seseorang nun jauh di sana yang kini tengah khusyuk berdoa untuk saya.
Dini yang baik, Malam ini, di luar, masih juga rintik gerimis itu....

Wassalam,Moh. Syafari Firdaus

Sunday, February 04, 2007

My Heart

Perjalanan singkat, anugerah
Nafas hidup, udara
Mimpi yang terkatup, tak berdosa
Imaji liar, terlempar

(Sebuah lagu, pada mulanya
Merindukan sosok, nampaknya
Jiwa cinta, menghidupkannya)

Akhirnya,
dendang manis jua ujungnya
romantisme dalam kesendirian

sebongkah rindu, kita gantung di ujung jendela

Kita Akan Berangkat, Kawan

sudahkah kau llihat
aku tengah berkemas?

tanpa pedih, tanpa sukacita
hanya keyakinan, kita akan sampai
ke tujuan-tujuan kita
: dan aku akan menemanimu
bahkan ke impian-impianmu

bergegaslah, kawan
karena setelah itu, kita akan
berangkat pergi

pagi-pagi

Masih Pantaskah, Ucapan Lelah?

lelah itu menganga
terbuka di 6 tahun perjalanan
jika saja boleh istirah

adakah ia, karena rasa syukur yang tiada
adakah ia, karena sabar terkikis senja
adakah ia, karena tak mampu mencipta cinta

( namun kemarin, aku bertemu orang-orang
dengan perjalanan amat beratnya
kehilangan kerabat hatinya
disimpan lelah, dimatanya lekat-lekat
: yang terlihat hanya tawa
aku tanya padanya, begitu rapatkah duka itu
kau peluk?

senyum jelaga,
"Hidup harus terus berjalan," katanya

Ayah, Ibu, Adik-Adikku

Ayah, Ibu, Adik-adikku
bernafas di laut bebas
sendirian menggapai impian dan pengabdian
melepas kalian, maafkan

jika masih Tuhan memberi waktu!
jika masih Tuhan memberi ruang!
jika masih Tuhan meniupkan berkat, ya Allah!